sekolah dasar

Saat audit kemarin ada sesuatu yang membuat keningku mengkernyit. Sepintas ada tulisan ‘sekolah dasar’ pada kolom tingkat pendidikan.  Awalnya aku hanya berharap para operator yang aku lihat di dalam pabrik sudah lulus sekolah sejak lama. Ok. mungkin jadi ‘operator’ (istilah disana) tidak perlu terlalu pintar. Tidak perlu bisa bahasa Inggris. Hmm..satu, dua, lebih dari sepuluh orang bisa aku lihat foto copy ijazahnya. Lulus kemarin sore. Berarti para pekerja yang nanti aku temukan merupakan para abg yang bekerja keras penuh keras penuh keringat untuk memenuhi shift-nya.

Kekhawatiranku terbukti. Barisan abg yang rata-rata perempuan duduk seperti robot. Pandangan serta gerakannya hanya berpusat pada mesin berjalan berisi komponen-komponen produk yang harus dirakit. Panas dari api yang menjilat dan pecahan kaca yang mungkin menyambar muka seolah sudah jadi makanan sehari-hari. Tidak ada perangkat keselamatan. Tidak selamat sama sekali.
 
Gosh. Hanya hatiku yang mengeleng-geleng. Raut mukaku harus tenang walau perasaanku tiba-tiba menjadi sangat marah melihat keadaan itu. Aku berusaha untuk rasional. Tanya dan terus bertanya. Catat dan terus mencatat. Negeri ini…harus sampai kapan harus diberi kesempatan.


About this entry