thanks God

Sambil merayu password untuk bisa access koneksi hotspot di asrama, aku tukar cerita sama Yudi, sang kuncen sawangan (sebelumnya dari cikini). Dia cerita bagaimana kondisinya setelah jaman perkuliahan harus berakhir dan kemudian kembali ke instansi. Aku bisa lihat betapa hopeless-nya dia menceritakan semua kenyataan, bahwa kenyataan tidak seindah foto yang diedit dengan Photoshop. Bibirnya dicibirkan berkali-kali kalau sudah bicara soal boss atau rekan sejawat yang tidak kooperatif, soal pekerjaan yang tidak dibagi. Dia bilang mau minta pindah saja.

Hmm…antara sama atau tidak. Begitu hopeless-nya keadaan sesungguhnya, padahal kami (at least aku) datang dengan semangat 45 dan cita-cita luhur nan mengawang-awang. Sejenak aku sedikit terpengaruh dan berpikir ke belakang, ke kantor. Seperti di film-film, aku bisa mengingat wajah-wajah tidak bersahabat dalam pergerakan lambat, slow motion. Kemudian aku seolah bisa mendengar kembali ketidaksukaan dari nada suara senior yang aku tebengi kalau pulang dan pergi, ketika bicara soal substansi. Entah memang tidak suka diskusi, atau merasa digurui. Tiba-tiba aku jadi tidak nyaman. Entah apa yang akan aku hadapi nanti. Teman jadi tidak suka, yang tidak suka berlagak suka padahal masih tidak suka. Semua jadi negatif. Duh!

Well, untuk kali ini cuma satu harapanku. Bisa mengikuti semua sampai selesai. Setelah itu baru aku jawab tantangan, seperti saat pertama kali aku terima kenyataan. Ambil, mengomel dan mengomel sedikit (atau lebih), tapi tetap jalan lurus ke depan. Semangat!!


About this entry